Basyar, Insandan Naas
Fitrah
Ibadah
Khalifah
Amanah
Penciptaan
KELOMPOK 5
:
2. KUDRAT RAHARDITAMA (
1204015223 )
3. SEPRIADI CHANDRA (
1204015383 )
4. MOHAMMAD FAHMI. F (
1204015275 )
PROGRAM
STUDI FARMASI
FAKULTAS
FARMASI DAN SAINS
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA
Jakarta
2012/2013
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah Swt,pencipta dan pengatur
tunggal alam semesta,dan hanya kepada-Nya kami memohon perlindugan terhadap
semua urusan.
Di abad modern ini,saat alam sudah
mulai berbaur dengan teknologi,masih banyak diantara kita yang belum memahami
tentang konsep manusia menurut basyar,insane,naas,fitrah,ibadah,khalifah,dan
amanah.Oleh karena itu dalam kesempatan ini kami mempersembahkan sebuah
makalah(karya tulis)yang berjudul ‘’Konsep Manusia”
Dalam makalah ini,kami menyajika
berbagai informasi seputar konsep manusia menurut
basyar,insane,naas,fitrah,ibadah,khalifah,dan amanah.
Kami menyadari masih banyak
kekurangan dalam makalah (karya tulis) ini.Oleh karenai itu segala kritikan dan
saran yang membangun akan kami terima dengan lapang dada sebagai wujud koreksi
diri kami yang masih belajar.Akhir kata, semoga makalah(karya tulis) ini
bermanfaat bagi kita semua
Jakarta, 25 September 2012
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................1
DAFTAR ISI................................................................................................................................2
PENDAHULUAN.................................................................................................................... 3
Manusia menurut konsep basyar, insan, naas................................................................. 4-8
Konsep penciptaan manusia........................................................................................... 9-10
Manusia menurut konsep fitrah........................................................................................ 11
Konsep ibadah.................................................................................................................. 12
Konsep kholifah.................................................................................................................. 13
Konsep amanah............................................................................................................ 14-15
PENDAHULUAN
Sudah dijelaskan
bahwa syariah Islam merupakan
serangkaian
aturan tentang hubungan manusia dengan Allah swt. dan hubungan
manusia dengan konsep-konsepnya. Hubungan
yang pertama disebut insan,basyar,naas,ibadah,khalifah,penciptaan,amanah,dan
fitrah
hubungan
tersebut merupakan inti dari syariah
Islam. Ibadah
merupakan sarana untuk menjadikan manusia sebagai hamba Allah
(‘abdullah),
yang merupakan salah satu fungsi kehadirannya di muka bumi ini.
melalui ibadah
inilah manusia dapat berkomunikasi langsung dengan Sang
Pencipta, Allah
swt.
Ibadah merupakan
penghambaan atau pengabdian manusia kepada yang
berhak
mendapatkannya. Dalam proses ibadah ini, manusia sebagai ‘abid (yang
melakukan
penghambaan) dapat segera langsung memberikan pengabdiannya
kepada Allah
swt. sebagai al-Ma’bud (yang berhak mendapatkan penghambaan).
Sebagai Dzat
yang Maha Sempurna, Allah swt. sama sekali tidak memiliki
ketergantungan
kepada manusia sebagai ‘abid, tetapi sebaliknya justeru
manusialah yang
sangat tergantung kepada al-Ma’bud (Allah swt.). Karena itulah,
ibadah merupakan
suatu kewajiban bagi manusia untuk dapat memposisikan
dirinya sebagai ‘abid.
Allah swt.
memberikan aturan yang rinci tentang ibadah agar manusia
dapat melakukannya dengan benar sesuai
dengan konsep, terutama ibadah-ibadah khusus yang memiliki
nilai yang
sangat tinggi. Ibadah-ibadah ini tidak bisa ditambah-tambah atau
dikurangi,
tetapi harus dilakukan sesuai dengan petunjuk yang sudah ada, baik
dari Allah swt.
maupun dari Nabi Muhammad saw. Di luar ibadah-ibadah khusus
ini, manusia
diberikan keleluasaan untuk mengembangkannya.
Bab ini akan
mengkaji masalah ibadah dan permasalahannya dengan
harapan
dapat memberikan pemahaman yang benar kepada mahasiswa terkait
A.Manusia menurut konsep Basyar, Insan
dan Naas
A.
BASYAR
Basyar adalah makhluk yang
sekedar ada (being). Dalam hal ini artinya, manusia adalah makhluk
statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka
bumi. Oleh karenanya itu, manusia memiliki definisi yang sama sepanjang zaman,
terlepas dari ruang dan waktunya.(Shari’ati, Man and Islam: 64).
Singkatnya, basyar adalah manusia dalam arti fisis-biologis.
Manusia dilihat sudut fisik tidaklah
jauh berbeda dengan hewan. Manusia bisa makan, minum, tidur, sakit dan mati.
Begitu pula hewan. Bahkan, bila manusia dan hewan dibandingkan dari segi
perbuatan nistanya, maka manusia lebih inferior dari hewan (dalam arti bisa
lebih jahat dan kejam)
Kata Basyar juga mengandung arti
semangat,gembira,berseri-seri,langsung,kulit,luar.Bentuk lain dari kata ini
adalah mubasysyir atau basyir yang berarti pembawa kabar gembira. Kata
al-basyar disebut dalam al-Qur’ansebanyak 26 kali dalam berbagai
konteksnya,sebagaimana dijelaskan sebagai berikut :
a) Sebagai manusia
biasa yang memerlukan makan, minum,pakaian,tempat, dan diakhiri dengan kematian
seperti terdapat dalam surat: al-Maidah [5]:18, Yusuf[12]:31, al-Anbiya[21]:34,
Ali imran[3]:47,Hud[11}:27,Ibrahim[14]:10-11, al-Nahl[16]:103,
al-Isra[17}:93,Maryam{19}:20,al-Mu’minun[23]:24,33,34,47 sebagai contoh dalam
surat Hud[11]:27
‘’Maka berkatalah pemimpin-pemimpin
yang kafir dari kaumnya: ‘’kami tidak melihat kamu,melainkan(sebagai)seorang
manusia (biasa)seperti kami,dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti
kamu,melainkan orang-orang yang hina di antara kami yang lekas percaya saja,
dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan
kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta’’
b) Sebagai penerima
wahyu dan penyampai agama Allah seperti terdapat dalam surat :
al-kahfi[18]:110,as-Syura[42]:51,Ali Imran[3]:79,al-Syu’ra[26]:154,185,
Yasin[36]:15,Sebagai contoh dalam surat al-Kahfi[18]:110
‘’Katakanlah
sesungguhnya aku ini manusia biasa
seperti kamu,yang diwayuhka: ‘’Bahwa sesungguhnyaTuhan kamu itu adalah Tuhan
yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya,maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang soleh dan janganlah Ia mempersekutukan seseorangpun dalam
beribadah kepada Tuhannya’’(QS.al-Kahfi[18]:110)
c) Dalam konteks
penciptaan manusia dari tanah dan air,seperti terdapat dalam surat Shad
[38]:71,ar-Rum [30]:20, dan al-Furqan[25]:54, sebagai contoh surat Shad[38]:71,
dan al-Furqan[25]:54
“(Ingatlah)ketika
Tuhanmu berfirman kepada malaikat: ‘’Sesungghunya Aku ciptakan manusia dari
tanah’’.
‘’Dan
dia(pula)yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia iitu(punya)keturunan
dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa
Kata Basyar baik laki-laki maupun
perempuan, baik satu ataupun banyak.Al-Qur’anmenggunakan kata ini sebanyak 36
kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna(dua) untuk
menunjukan anusia dari sudut lahiriyahnya serta persamaannya dengan manusiia
seluruhnya.Karena iitu Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk menyampaikan bahwa
“Aku adalah Basyar(manusia)seperti kamu yang diberi
wahyu”(QS.al-Kahf[18]:110).Pada konteks lain banyak ayat-ayat al-Qur’an
menggunakan kata ini yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia melalui
tahapan-tahapan sehingga mencapai tahapan keswasaan.Firman Allah
QS.ar-Rum[3]:20 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Allah mencciptakan
kamu dari tanah ketika kamu menjadi Basyar kamu bertebaran” Bertebaran di sini
bias diartikan berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari
rezki
Basyar juga diartikan sebagai
kedewasaan dalam kehidupan manusia,yang menjadikannya mampu memikul
tanggungjawab.Dan karena itu pula,tugas kekhalifahan dibebankan kepada Basyar.Manusia
dalam pengertian Basyar tergantung sepenuhnya pada alam, pertumbuhan dan
perkembangan fisiknya tergantung pada apa yang dimakan.Dari pengertian Basyar
ini dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia
merupakan makhluk yang dibekali Allah dengan potensi fisik maupun psikis
untuk berkembang
B. INSAN
Insan berarti manusia dalam arti yang
sebenarnya. Insan tidak menunjuk pada manusia biologis. Insan lebih
terkait dengan kualitas luhur kemanusiaan. Ali Shari’ati menyatakan bahwa,”tidak
semua manusia adalah insan, namun mereka mempunyai potensialitas untuk mencapai
tingkatan kemanusiaan yang lebih tinggi”.
Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming).
Ia terus-menerus maju menuju ke kesempurnaan Karakter “menjadi” yang lebih
diinginkan
Sebagai
contoh, semut dan serangga lainnya tidak pernah dapat melampaui keadaannya; ia
menggali lubang dengan cara yang sama sebagaimana ia melakukanya 15 juta tahun
yang lampau di Afrika. Tidak usah memandang di mana, kapan dan bagaimana, semut
selalu dalam keadaan yang sama, pasti dan tidak dapat berubah-rubah.
Dalam al-Qur’an dipakai untuk
manusia tunggal .Sedangkan untu jamaknya dipakai kata
an-nas,anasi,insiya,unasi.Kata al-insan mengandung arti tentang gembiran,dan baik.Arti ksts al-insan
sebagaimana menurut para ulama yaitu makhluk yang mampu memikul beban amanat
risalah dari Allah Swt dengan merujuk pada surat al-Ahzab[32]:72 “Sesungguhnya
kami telah mengemukakan amanat kepada langit,bumi,dan gunung-gunung. Maka
semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka akan khawatir
mengkhianatinya,dan dipikullah amanat itu oleh manusia.Sesungguhnya manusia itu
amat zalim dan amat bodoh”
Kata insan ini terulang daalam al-Qur’an sebanyak 70 kali
dengan berbagai konteksnya yaitu:
a) Menjelaskan
tentang manusia
1. Asal kejadian
manusia dari tanah
Sebagai contoh dalam surat al-Hijr[15]:26 “Dan sesungguhnya
kami telah menciptakan manusia(Adam)dari tanah liat kering(yang berasal)dari
lumpur hitam yang diberi bentuk”
2. Kejadian manusia
dari setetes air mani
Sebagai contoh dalam
surat al-Nahl[16]:4 “Dia telah menciptakan manusia dari mani,tiba-tiba dia
menjadi pembantah yang nyata”
3. Kejadian manusia
dari segumpal darah
Sebagai contoh terdapat
dalam surat al-Alaq[96]:2 “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”
4. Kejadian manusia
dalam susah payah
Sebagai
contoh dalam surat al-Balad[90]:4 “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia
dalam susah payah”
5. Kejadian manusia
dalam sebaik-baiknya bentuk
Sebagai contoh terdapat dalam surat
at-Tin[95]:4 “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya”
b) Menjelaskan
sifat-sifat negative manusia
1. Tidak pandai bersyukur
dn putus asa atas nikmat Allah
Sebagai contoh dalam surat Hud[11]:9 “Dan jika kami rasakn
kepadanya manusia suatu rahmat(nikmat) dari kami,kemudian rahmat itu kami cabut
daripadanya,pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih”
2. Pragmatis
terhadap Allah (ingat ketika kesulitan dan lupa ketika kelapangan)
Sebagai
contoh terdapat dalam surat Yunus[10]:12 “Dan apabila manusia ditimpa bahaya
dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring,duduk, atau berdiri tetapi
setelah kami hilangkan bahaya itu dari padanya,dia(kembali)melalui(jalannya
yang sesat),seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk
(menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.Begitulah orang-orang yang
melampauibatas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”
3. Kikir dan suka
keluh kesah dan tergesa-gesa
Sebagai
contoh terdapat dalam surat al-Ma’arij[70]:19 “Sesungguhnya manusia diciptakan
keluh kesah lagi kikir”
4. Suka
membantah,zalim dan melampaui batas
Sebagai
contoh terdapat dalam surat
al-Ahzab[33]:72 “sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada
langit ,bumi dan gunung-gunung,maka semuanya enggan untuk memikul amanatitu dan
mereka khhawatir akan mengkhianatinya dan dipikulah amanat itu oleh manusia.Sesungguhnya
manusia itu amat zalim dan bodoh”
C. NAAS
B.Konsep Penciptaan Manusia
Penciptaan
Manusia dan Tujuannya Dalam Hidup Ini
Sebelum memasuki pembahasan tentang pensucian jiwa manusia,
sebaiknya kita memahami terlebih dahulu kejadian penciptaan manusia dan
tujuannya dalam kehidupan di dunia ini. Dengan merujuk kepada ayat-ayat
Al-Qu’an maka kita akan mendapatkan penjelasan yang rinci tentang fase-fase
penciptaan manusia.
Fase-fase
penciptaan manusia
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari
setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu
sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada
masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu
ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai
kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).(Al-Ghafir : 67)
Jadi jiwa manusia terbentuk dari dua unsur yaitu air dan
tanah dan keduanya merupakan unsur yang amat dominan dalam pembentukan jiwa
manusia. Pada fase ini penciptaan manusia berhubungan dengan penciptaannya yang
pertama kali yaitu Adam AS. Adapun yang membedakan manusia dengan makhluk
lainnya adalah sentuhan terakhir yang Allah anugerahkan berupa ruh yang
sempurna, sebagaimana firman Allah SWT
Peniupan ruh yang sempurna memberikan manusia beberapa
keistimewaan dibanding makhluk lain di dunia ini berupa
1.
Fitrah yang baik berupa keimanan kepada Allah SWT
2.
Pengetahuan yang Allah berikan melalui akal
3.
Kebebasan memilih jalan hidupnya
4.
Tanggung jawab atas pilihan tersebut
Tujuan
penciptaan manusia
Allah SWT telah menciptakan manusia dari setetes mani dan
menghimpunnya menjadi sesosok manusia dan menganugerahinya kelebihan berupa
fikiran dan nafsu untuk memberi mereka ujian yang sesungguhnya di dunia ini.
Adapun kedudukan manusia setelah menempuh ujian ini ada dua
macam, dia dapat menjadi pribadi yang selalu bersyukur atau justru menjadi
seorang yang kufur, dan masing-masing di antara keduanya akan mendapat balasan
atas pilihan mereka.
Salah satu pengagungan yang didapat manusia atas beban
tersebut adalah perintah Allah kepada malaikat untuk sujud kepada Adam AS. Dan
sujud menunjukkan kepatuhan malaikat kepada Allah dalam membantu manusia
memikul tanggung jawab di dunia.
Maka kita telah mengetahui tujuan dari penciptaan manusia.
Allah tidaklah menciptakan sesuatu kecuali memiliki maksud dan tujuan khusus
begitupula dengan penciptaan manusia yang tidak diciptakan sia-sia.
C.Manusia menurut konsep Fitrah
Pengertian fitrah secara lughatan (etimologi)
berasal dari kosa kata bahasa arab yakni fa-tha-ra yang berarti “Kejadian”
fitrah itu berasal dari kata kerja yang berarti Menjadikan.
Hubungan Fitrah Dengan
Pendidikan Islam dalam al-Quran.
Manusia dalam pandangan islam adalah
Khalifah dimuka bumi dan di beri hak untuk mengatur alam ini sesuai
kapasitasnya.
Maka konsep fitrah terhadap
pendidikan islam dimaksudkan ini, bahwa seluruh aspek dalam menunjang seseorang
menjadi manusia secara manusiawi adanya penyesuain secara aktualisasi
fitarahnya. yg diharapkan yakni : 1. Konsep fitrah mempercayai bahwa secara
alamiah manusia itu positif (fitrah), baik secara jasadi, dan ruhani
(sepiritual). 2. Mengakui bahwa komponen terpenting manusia adalah Qolbu
(Aqidah).
Dari sini kita dapat mengetahui bahwa keimanan kepada Allah
merupakan fitrah pada jiwa manusia, dan fitrah tersebut berawal sejak kita
mengambil perjanjian dengan Allah dalam kandungan.
Allah tidaklah melepas manusia dengan fitrahnya melainkan
juga mengutus seorang rasul pada zamannya yang menyerukan kepada petunjuk yang
lurus dan mengarahkan mereka kepada manhaj yang sesuai dengan fitrah. Hal ini
disebabkan karena jiwa tersebut dapat berubah sewaktu-waktu akibat lingkungan
yang sesat, taqlid buta dan juga mengikuti setan. Ketika fitrah tersebut rusak
maka jiwa akan mengikuti hawa nafsu dan penyelewengan terhadap tujuan awal
penciptaan manusia.
D.Konsep Ibadah
Pengertian
Ibadah
Secara
etimologis kata ‘ibadah’ berasal dari bahasa Arab al-‘ibadah, yang
berarti
taat, menurut, mengikut, tunduk (Ash Shiddieqy, 1985: 1).Sedang
secaraterminologis ibadah diartikan segala sesuatu yang dikerjakan untuk
mencapaikeridoan Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat (Ash Shiddieqy,
1985: 4).Inilah definisi yang dikemukakan oleh ulama fikih. Dari makna ini,
jelaslahbahwa ibadah mencakup semua aktivitas manusia baik perkataan
maupunperbuatan yang didasari dengan niat ikhlas untuk mencapai keridoan Allah
danmengharap pahala di akhirat kelak.Para ulama membagi ibadah menjadi dua
macam, yaitu ibadah mahdlah(ibadah khusus) dan ibadah ghairu mahdlah (ibadah
umum) (Ash Shiddieqy,1985: 5). Ibadah khusus adalah ibadah langsung kepada
Allah yang tata carapelaksanaannya telah diatur dan ditetapkan oleh Allah atau
dicontohkan olehRasulullah.
Adapun
ibadah ghairu mahdlah (ibadah umum) adalah ibadah yang tatacara
pelaksanaannya tidak diatur secara rinci oleh Allah dan Rasulullah. Ibadahumum
ini tidak menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi justeruberupa
hubungan antara manusia dengan manusia lain atau dengan alam yangmemiliki nilai
ibadah.
Ibadah mahdlah
yang aturannya langsung dari
Allah swt. (dan
Rasulullah) memiliki tujuan dan hikmah yang sangat besar yang
semuanya kembali
kepada manusia yang melakukannya. Sebagai Tuhan Yang
Maha Sempurna,
Allah swt. tidak mendapatkan efek sedikit pun dari peribadahan
manusia.
Seandainya semua manusia di muka bumi ini enggan beribadah kepada
Allah,
maka Allah swt. tetap Maha Kuasa dan Maha Sempurna.
E. KONSEP KHALIPAH
Pengertian
Bahasa Khilafah
Khilafah
menurut makna bahasa merupakan mashdar dari fi’il madhi khalafa, berarti :
menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir, 1984:390). Makna khilafah
menurut Ibrahim Anis (1972) adalah orang yang datang setelah orang lain lalu
menggantikan tempatnya (jaa`a ba’dahu fa-shaara makaanahu).
tugas-tugas khalifah, yang secara lebih rinci terdiri dari
dua tugas berikut :
Pertama, tugas khalifah menerapkan seluruh hukum syariah
Islam atas seluruh rakyat. Hal ini nampak dalam berbagai nash yang menjelaskan
tugas khalifah untuk mengatur muamalat dan urusan harta benda antara individu
muslim (QS Al-Baqarah:188, QS An-Nisaa`:58), mengumpulkan dan membagikan zakat
(QS At-Taubah:103), menegakkan hudud (QS Al-Baqarah:179), menjaga akhlaq (QS
Al-Isra`:32), menjamin masyarakat dapat menegakkan syiar-syiar Islam dan
menjalankan berbagai ibadat (QS Al-Hajj:32), dan seterusnya.
Kedua, tugas khalifah mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh
dunia dengan jihad fi sabilillah. Hal ini nampak dalam banyak nash yang
menjelaskan tugas khalifah untuk mempersiapkan pasukan perang untuk berjihad
(QS Al-Baqarah:216), menjaga tapal batas negara (QS Al-Anfaal:60), memantapkan
hubungan dengan berbagai negara menurut asas yang dituntut oleh politik luar
negeri, misalnya mengadakan berbagai perjanjian perdagangan, perjanjian
gencatan senjata, perjanjian bertetangga baik, dan semisalnya (QS Al-Anfaal:61;
QS Muhammad:35).
F. Konsep Amanah
A. PENGERTIAN AMANAH
Amânah berasal dari kata a-mu-na –
ya‘munu – amn[an] wa amânat[an] yang artinya jujur atau dapat dipercaya. Kata
kerja ini berakar dari huruf hamzah, mim dan nun yang makna pokoknya adalah
aman, tenteram dan hilangnya rasa takut. Secara bahasa, amânah (amanah) dapat
diartikan sesuatu yang dipercayakan atau kepercayaan. Amanah juga berarti
titipan (al-wadî‘ah). Amanah adalah lawan dari khianat. Amanah terjadi di atas
ketaatan, ibadah, al-wadî’ah (titipan), dan ats-tsiqah (kepercayaan).
Al-Isfahani memaknai amanah dengan
ketenteraman jiwa (tu’maninatun al-nafs). Farid Wajdi menterjemahkan amanah
dengan sukun al-qalb (ketenteraman hati). Lawan dari kata amanah adalah khianat.
Dari akar kata ini juga terbentuk kata iman dan amin.
Orang yang beriman dipastikan akan memperoleh rasa aman dan tenteram. karena ia akan merasa mendapatkan penjagaan dari Allah Swt. Sebaliknya orang yang diselimuti dengan berbagai macam kegelisahan dan ketakutan, dipastikan sedang mengalami krisis iman.
Orang yang beriman dipastikan akan memperoleh rasa aman dan tenteram. karena ia akan merasa mendapatkan penjagaan dari Allah Swt. Sebaliknya orang yang diselimuti dengan berbagai macam kegelisahan dan ketakutan, dipastikan sedang mengalami krisis iman.
AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG AMANAH
1.
Surat Al-ahzab ayat 72
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit,
bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan
mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh.”
2. Surat
An-nisa’ ayat 58
Menunaikan amanah adalah wajib
hukumnya. Amanah wajib disampaikan kepada yang berhak menerimanya. Alloh SWT
berfirman dalam surat An-nisa’ ayat 58;
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara
manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
mendengar lagi Maha melihat.”
HAKIKAT MAKNA AMANAH DAN IMPLEMENTASINYA
Merujuk kepada ayat-ayat Al-Quran
diatas, menurut pandangan penulis pada hakikatnya kata amanah mengandung makna
sebagai berikut:
1. Amanah dalam arti tanggungjawab
personal manusia kepada Alloh
Alasan penolakan alam (bumi, langit dan sebagainya) terhadap
amanah (QS. Al-Ahzab: 72) adalah karena mereka tidak memiliki potensi kebebasan
seperti manusia. Padahal untuk menjalankan amanah diperlukan kebebasan yang
diiringi dengan tanggung jawab. Oleh sebab itu, apapun yang dilakukan bumi,
langit, gunung terhadap manusia, walaupun sampai menimbulkan korban jiwa dan
harta benda, tetap saja "benda-benda alam" itu tidak dapat diminta
pertanggungjawabannya oleh Allah. Berbeda dengan manusia. Apapun yang
dilakukannya tetap dituntut pertanggungjawaban.
Manusia adalah khalifah fi al-ardh, oleh karena itu manusia
memiliki beban (tugas) untuk memakmurkan bumi (wasta’marakum alardh). Sebuah
tugas yang maha berat, karena menuntut kesungguhan dan keseriusan kita dalam
menjalankannya.
Bahkan tugas ini jauh lebih berat
dari melaksanakan ibadah. Secara sederhana dapat dikatakan sebagai seorang
muslim, hidup tidak sekedar menjalankan ibadah mahdzoh saja, lalu kita merasa
nyaman. Hidup sesungguhnya adalah sebuah perjuangan untuk menegakkan kebaikan.
KESIMPULAN
Jadi
dari semua pengertian di atas, kami bisa menyimpulkan dari setiap
konsep-konsep. konsep Basyar adalah makhluk yang sekedar ada (being).
Dalam hal ini artinya, manusia adalah makhluk statis, tidak mengalami
perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka bumi.Insan berarti
manusia dalam arti yang sebenarnya, konsepInsan adalah makhluk yang
menjadi (becoming). Ia terus-menerus maju menuju ke kesempurnaan
Karakter “menjadi” yang lebih diinginkan. Sedangkan naas adalah
Konsep penciptaanSebelum
memasuki pembahasan tentang pensucian jiwa manusia, sebaiknya kita memahami
terlebih dahulu kejadian penciptaan manusia dan tujuannya dalam kehidupan di
dunia ini.Jadi jiwa manusia terbentuk dari dua unsur yaitu air dan tanah dan
keduanya merupakan unsur yang amat dominan dalam pembentukan jiwa manusia.
Konsep
Fitrah Pengertian fitrah secara lughatan (etimologi) berasal dari kosa kata
bahasa arab yakni fa-tha-ra yang berarti “Kejadian” fitrah itu berasal dari
kata kerja yang berarti Menjadikan.
Konsep
ibadah
Secara
etimologis kata ‘ibadah’ berasal dari bahasa Arab al-‘ibadah, yang
berarti taat, menurut, mengikut, tunduk (Ash
Shiddieqy, 1985: 1).Sedang secaraterminologis ibadah diartikan segala sesuatu
yang dikerjakan untuk mencapaikeridoan Allah dan mengharap pahala-Nya di
akhirat
Khilafah
menurut makna bahasa merupakan mashdar dari fi’il madhi khalafa, berarti :
menggantikan atau menempati tempatnya,orang yang datang setelah orang lain lalu
menggantikan tempatnya.
Konsep amanah
Amânah
berasal dari kata a-mu-na – ya‘munu – amn[an] wa amânat[an] yang artinya jujur
atau dapat dipercaya. Kata kerja ini berakar dari huruf hamzah, mim dan nun
yang makna pokoknya adalah aman.
DAFTAR
PUSTAKA
Didownload
pada tanggal 10
Didownload
pada tanggal 10
·
http://penciptaan
manusia.com
Didownload
pada tanggal 10