Senin, 15 Oktober 2012

Basyar, Insadan, Naas, fitrah, ibadah, khalifah, amanah, dan penciptaan

                                  MAKALAH AGAMA ISLAM, MANUSIA DALAM KONSEP
Basyar, Insandan  Naas
Fitrah
Ibadah
Khalifah
Amanah
Penciptaan

KELOMPOK 5 :
1. FAJAR ADE K                       ( 1204015163 )
2. KUDRAT RAHARDITAMA    ( 1204015223 )
3. SEPRIADI CHANDRA           ( 1204015383 )
4. MOHAMMAD FAHMI. F     ( 1204015275 )

PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS FARMASI DAN SAINS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA
Jakarta
2012/2013



KATA PENGANTAR

           

Segala puji hanya milik Allah Swt,pencipta dan pengatur tunggal alam semesta,dan hanya kepada-Nya kami memohon perlindugan terhadap semua urusan.

            Di abad modern ini,saat alam sudah mulai berbaur dengan teknologi,masih banyak diantara kita yang belum memahami tentang konsep manusia menurut basyar,insane,naas,fitrah,ibadah,khalifah,dan amanah.Oleh karena itu dalam kesempatan ini kami mempersembahkan sebuah makalah(karya tulis)yang berjudul ‘’Konsep Manusia”
            Dalam makalah ini,kami menyajika berbagai informasi seputar konsep manusia menurut basyar,insane,naas,fitrah,ibadah,khalifah,dan amanah.
            Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah (karya tulis) ini.Oleh karenai itu segala kritikan dan saran yang membangun akan kami terima dengan lapang dada sebagai wujud koreksi diri kami yang masih belajar.Akhir kata, semoga makalah(karya tulis) ini bermanfaat bagi kita semua







Jakarta, 25 September 2012


Penulis     


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................1

DAFTAR ISI................................................................................................................................2
PENDAHULUAN.................................................................................................................... 3
Manusia menurut konsep basyar, insan, naas................................................................. 4-8
Konsep penciptaan manusia........................................................................................... 9-10
Manusia menurut konsep fitrah........................................................................................ 11
Konsep ibadah.................................................................................................................. 12
Konsep kholifah.................................................................................................................. 13
Konsep amanah............................................................................................................ 14-15



                                                                PENDAHULUAN
Sudah dijelaskan bahwa syariah Islam merupakan
serangkaian aturan tentang hubungan manusia dengan Allah swt. dan hubungan
manusia dengan konsep-konsepnya. Hubungan yang pertama disebut insan,basyar,naas,ibadah,khalifah,penciptaan,amanah,dan fitrah
hubungan tersebut merupakan inti dari syariah
Islam. Ibadah merupakan sarana untuk menjadikan manusia sebagai hamba Allah
(‘abdullah), yang merupakan salah satu fungsi kehadirannya di muka bumi ini.
melalui ibadah inilah manusia dapat berkomunikasi langsung dengan Sang
Pencipta, Allah swt.
Ibadah merupakan penghambaan atau pengabdian manusia kepada yang
berhak mendapatkannya. Dalam proses ibadah ini, manusia sebagai ‘abid (yang
melakukan penghambaan) dapat segera langsung memberikan pengabdiannya
kepada Allah swt. sebagai al-Ma’bud (yang berhak mendapatkan penghambaan).
Sebagai Dzat yang Maha Sempurna, Allah swt. sama sekali tidak memiliki
ketergantungan kepada manusia sebagai ‘abid, tetapi sebaliknya justeru
manusialah yang sangat tergantung kepada al-Ma’bud (Allah swt.). Karena itulah,
ibadah merupakan suatu kewajiban bagi manusia untuk dapat memposisikan
dirinya sebagai ‘abid.
Allah swt. memberikan aturan yang rinci tentang ibadah agar manusia
dapat melakukannya dengan benar sesuai dengan konsep, terutama ibadah-ibadah khusus yang memiliki
nilai yang sangat tinggi. Ibadah-ibadah ini tidak bisa ditambah-tambah atau
dikurangi, tetapi harus dilakukan sesuai dengan petunjuk yang sudah ada, baik
dari Allah swt. maupun dari Nabi Muhammad saw. Di luar ibadah-ibadah khusus
ini, manusia diberikan keleluasaan untuk mengembangkannya.
Bab ini akan mengkaji masalah ibadah dan permasalahannya dengan
harapan dapat memberikan pemahaman yang benar kepada mahasiswa terkait








A.Manusia menurut konsep Basyar, Insan  dan  Naas

A.     BASYAR
Basyar adalah makhluk yang sekedar ada (being).  Dalam hal ini artinya, manusia adalah makhluk statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka bumi. Oleh karenanya itu, manusia memiliki definisi yang sama sepanjang zaman, terlepas dari ruang dan waktunya.(Shari’ati, Man and Islam: 64). Singkatnya, basyar adalah manusia dalam arti fisis-biologis.
Manusia dilihat sudut fisik tidaklah jauh berbeda dengan hewan. Manusia bisa makan, minum, tidur, sakit dan mati. Begitu pula hewan. Bahkan, bila manusia dan hewan dibandingkan dari segi perbuatan nistanya, maka manusia lebih inferior dari hewan (dalam arti bisa lebih jahat dan kejam)
Kata Basyar juga mengandung arti semangat,gembira,berseri-seri,langsung,kulit,luar.Bentuk lain dari kata ini adalah mubasysyir atau basyir yang berarti pembawa kabar gembira. Kata al-basyar disebut dalam al-Qur’ansebanyak 26 kali dalam berbagai konteksnya,sebagaimana dijelaskan sebagai berikut :
a)      Sebagai manusia biasa yang memerlukan makan, minum,pakaian,tempat, dan diakhiri dengan kematian seperti terdapat dalam surat: al-Maidah [5]:18, Yusuf[12]:31, al-Anbiya[21]:34, Ali imran[3]:47,Hud[11}:27,Ibrahim[14]:10-11, al-Nahl[16]:103, al-Isra[17}:93,Maryam{19}:20,al-Mu’minun[23]:24,33,34,47 sebagai contoh dalam surat Hud[11]:27
‘’Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘’kami tidak melihat kamu,melainkan(sebagai)seorang manusia (biasa)seperti kami,dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu,melainkan orang-orang yang hina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta’’
b)      Sebagai penerima wahyu dan penyampai agama Allah seperti terdapat dalam surat : al-kahfi[18]:110,as-Syura[42]:51,Ali Imran[3]:79,al-Syu’ra[26]:154,185, Yasin[36]:15,Sebagai contoh dalam surat al-Kahfi[18]:110
‘’Katakanlah sesungguhnya aku ini manusia  biasa seperti kamu,yang diwayuhka: ‘’Bahwa sesungguhnyaTuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya,maka hendaklah ia mengerjakan amal yang soleh dan janganlah Ia mempersekutukan seseorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya’’(QS.al-Kahfi[18]:110)
c)      Dalam konteks penciptaan manusia dari tanah dan air,seperti terdapat dalam surat Shad [38]:71,ar-Rum [30]:20, dan al-Furqan[25]:54, sebagai contoh surat Shad[38]:71, dan al-Furqan[25]:54
“(Ingatlah)ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: ‘’Sesungghunya Aku ciptakan manusia dari tanah’’.

‘’Dan dia(pula)yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia iitu(punya)keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa

Kata Basyar baik laki-laki maupun perempuan, baik satu ataupun banyak.Al-Qur’anmenggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna(dua) untuk menunjukan anusia dari sudut lahiriyahnya serta persamaannya dengan manusiia seluruhnya.Karena iitu Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk menyampaikan bahwa “Aku adalah Basyar(manusia)seperti kamu yang diberi wahyu”(QS.al-Kahf[18]:110).Pada konteks lain banyak ayat-ayat al-Qur’an menggunakan kata ini yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia melalui tahapan-tahapan sehingga mencapai tahapan keswasaan.Firman Allah QS.ar-Rum[3]:20 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Allah mencciptakan kamu dari tanah ketika kamu menjadi Basyar kamu bertebaran” Bertebaran di sini bias diartikan berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rezki
Basyar juga diartikan sebagai kedewasaan dalam kehidupan manusia,yang menjadikannya mampu memikul tanggungjawab.Dan karena itu pula,tugas kekhalifahan dibebankan kepada Basyar.Manusia dalam pengertian Basyar tergantung sepenuhnya pada alam, pertumbuhan dan perkembangan fisiknya tergantung pada apa yang dimakan.Dari pengertian Basyar ini dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia  merupakan makhluk yang dibekali Allah dengan potensi fisik maupun psikis untuk berkembang





B.      INSAN
            Insan berarti manusia dalam arti yang sebenarnya. Insan tidak menunjuk pada manusia biologis. Insan lebih terkait dengan kualitas luhur kemanusiaan. Ali Shari’ati menyatakan bahwa,”tidak semua manusia adalah insan, namun mereka mempunyai potensialitas untuk mencapai tingkatan kemanusiaan yang lebih tinggi”.
            Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming). Ia terus-menerus maju menuju ke kesempurnaan Karakter “menjadi” yang lebih diinginkan
Sebagai contoh, semut dan serangga lainnya tidak pernah dapat melampaui keadaannya; ia menggali lubang dengan cara yang sama sebagaimana ia melakukanya 15 juta tahun yang lampau di Afrika. Tidak usah memandang di mana, kapan dan bagaimana, semut selalu dalam keadaan yang sama, pasti dan tidak dapat berubah-rubah.
            Dalam al-Qur’an dipakai untuk manusia tunggal .Sedangkan untu jamaknya dipakai kata an-nas,anasi,insiya,unasi.Kata al-insan mengandung arti tentang  gembiran,dan baik.Arti ksts al-insan sebagaimana menurut para ulama yaitu makhluk yang mampu memikul beban amanat risalah dari Allah Swt dengan merujuk pada surat al-Ahzab[32]:72 “Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit,bumi,dan gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka akan khawatir mengkhianatinya,dan dipikullah amanat itu oleh manusia.Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”
Kata insan ini terulang daalam al-Qur’an sebanyak 70 kali dengan berbagai konteksnya yaitu:
a)      Menjelaskan tentang manusia
1.      Asal kejadian manusia dari tanah
Sebagai contoh dalam surat al-Hijr[15]:26 “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia(Adam)dari tanah liat kering(yang berasal)dari lumpur hitam yang diberi bentuk”

2.      Kejadian manusia dari setetes air mani
Sebagai contoh dalam surat al-Nahl[16]:4 “Dia telah menciptakan manusia dari mani,tiba-tiba dia menjadi pembantah yang nyata”
3.      Kejadian manusia dari segumpal darah
Sebagai contoh terdapat dalam surat al-Alaq[96]:2 “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”
4.      Kejadian manusia dalam susah payah
Sebagai contoh dalam surat al-Balad[90]:4 “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam susah payah”

5.      Kejadian manusia dalam sebaik-baiknya bentuk
Sebagai contoh terdapat dalam surat at-Tin[95]:4 “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

b)      Menjelaskan sifat-sifat negative manusia
1.      Tidak pandai bersyukur dn putus asa  atas nikmat Allah
Sebagai contoh dalam surat Hud[11]:9 “Dan jika kami rasakn kepadanya manusia suatu rahmat(nikmat) dari kami,kemudian rahmat itu kami cabut daripadanya,pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih”
2.      Pragmatis terhadap Allah (ingat ketika kesulitan dan lupa ketika kelapangan)
Sebagai contoh terdapat dalam surat Yunus[10]:12 “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring,duduk, atau berdiri tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu dari padanya,dia(kembali)melalui(jalannya yang sesat),seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.Begitulah orang-orang yang melampauibatas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”
3.      Kikir dan suka keluh kesah dan tergesa-gesa
Sebagai contoh terdapat dalam surat al-Ma’arij[70]:19 “Sesungguhnya manusia diciptakan keluh kesah lagi kikir”
4.      Suka membantah,zalim dan melampaui batas
Sebagai contoh terdapat dalam surat  al-Ahzab[33]:72 “sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit ,bumi dan gunung-gunung,maka semuanya enggan untuk memikul amanatitu dan mereka khhawatir akan mengkhianatinya dan dipikulah amanat itu oleh manusia.Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh”


C.      NAAS



B.Konsep Penciptaan Manusia
                        Penciptaan Manusia dan Tujuannya Dalam Hidup Ini
Sebelum memasuki pembahasan tentang pensucian jiwa manusia, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu kejadian penciptaan manusia dan tujuannya dalam kehidupan di dunia ini. Dengan merujuk kepada ayat-ayat Al-Qu’an maka kita akan mendapatkan penjelasan yang rinci tentang fase-fase penciptaan manusia.
            Fase-fase penciptaan manusia
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).(Al-Ghafir : 67)

Jadi jiwa manusia terbentuk dari dua unsur yaitu air dan tanah dan keduanya merupakan unsur yang amat dominan dalam pembentukan jiwa manusia. Pada fase ini penciptaan manusia berhubungan dengan penciptaannya yang pertama kali yaitu Adam AS. Adapun yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah sentuhan terakhir yang Allah anugerahkan berupa ruh yang sempurna, sebagaimana firman Allah SWT
Peniupan ruh yang sempurna memberikan manusia beberapa keistimewaan dibanding makhluk lain di dunia ini berupa
1.       Fitrah yang baik berupa keimanan kepada Allah SWT
2.       Pengetahuan yang Allah berikan melalui akal
3.       Kebebasan memilih jalan hidupnya
4.       Tanggung jawab atas pilihan tersebut

                        Tujuan penciptaan manusia
Allah SWT telah menciptakan manusia dari setetes mani dan menghimpunnya menjadi sesosok manusia dan menganugerahinya kelebihan berupa fikiran dan nafsu untuk memberi mereka ujian yang sesungguhnya di dunia ini.
Adapun kedudukan manusia setelah menempuh ujian ini ada dua macam, dia dapat menjadi pribadi yang selalu bersyukur atau justru menjadi seorang yang kufur, dan masing-masing di antara keduanya akan mendapat balasan atas pilihan mereka.         
Salah satu pengagungan yang didapat manusia atas beban tersebut adalah perintah Allah kepada malaikat untuk sujud kepada Adam AS. Dan sujud menunjukkan kepatuhan malaikat kepada Allah dalam membantu manusia memikul tanggung jawab di dunia.
Maka kita telah mengetahui tujuan dari penciptaan manusia. Allah tidaklah menciptakan sesuatu kecuali memiliki maksud dan tujuan khusus begitupula dengan penciptaan manusia yang tidak diciptakan sia-sia.

C.Manusia menurut konsep Fitrah

Pengertian fitrah secara lughatan (etimologi) berasal dari kosa kata bahasa arab yakni fa-tha-ra yang berarti “Kejadian” fitrah itu berasal dari kata kerja yang berarti Menjadikan.
 Hubungan Fitrah Dengan Pendidikan Islam dalam al-Quran.
Manusia dalam pandangan islam adalah Khalifah dimuka bumi dan di beri hak untuk mengatur alam ini sesuai kapasitasnya.
Maka konsep fitrah terhadap pendidikan islam dimaksudkan ini, bahwa seluruh aspek dalam menunjang seseorang menjadi manusia secara manusiawi adanya penyesuain secara aktualisasi fitarahnya. yg diharapkan yakni : 1. Konsep fitrah mempercayai bahwa secara alamiah manusia itu positif (fitrah), baik secara jasadi, dan ruhani (sepiritual). 2. Mengakui bahwa komponen terpenting manusia adalah Qolbu (Aqidah).
Dari sini kita dapat mengetahui bahwa keimanan kepada Allah merupakan fitrah pada jiwa manusia, dan fitrah tersebut berawal sejak kita mengambil perjanjian dengan Allah dalam kandungan.
Allah tidaklah melepas manusia dengan fitrahnya melainkan juga mengutus seorang rasul pada zamannya yang menyerukan kepada petunjuk yang lurus dan mengarahkan mereka kepada manhaj yang sesuai dengan fitrah. Hal ini disebabkan karena jiwa tersebut dapat berubah sewaktu-waktu akibat lingkungan yang sesat, taqlid buta dan juga mengikuti setan. Ketika fitrah tersebut rusak maka jiwa akan mengikuti hawa nafsu dan penyelewengan terhadap tujuan awal penciptaan manusia.








D.Konsep Ibadah
Pengertian Ibadah
Secara etimologis kata ‘ibadah’ berasal dari bahasa Arab al-‘ibadah, yang
berarti taat, menurut, mengikut, tunduk (Ash Shiddieqy, 1985: 1).Sedang secaraterminologis ibadah diartikan segala sesuatu yang dikerjakan untuk mencapaikeridoan Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat (Ash Shiddieqy, 1985: 4).Inilah definisi yang dikemukakan oleh ulama fikih. Dari makna ini, jelaslahbahwa ibadah mencakup semua aktivitas manusia baik perkataan maupunperbuatan yang didasari dengan niat ikhlas untuk mencapai keridoan Allah danmengharap pahala di akhirat kelak.Para ulama membagi ibadah menjadi dua macam, yaitu ibadah mahdlah(ibadah khusus) dan ibadah ghairu mahdlah (ibadah umum) (Ash Shiddieqy,1985: 5). Ibadah khusus adalah ibadah langsung kepada Allah yang tata carapelaksanaannya telah diatur dan ditetapkan oleh Allah atau dicontohkan olehRasulullah.
Adapun ibadah ghairu mahdlah (ibadah umum) adalah ibadah yang tatacara pelaksanaannya tidak diatur secara rinci oleh Allah dan Rasulullah. Ibadahumum ini tidak menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi justeruberupa hubungan antara manusia dengan manusia lain atau dengan alam yangmemiliki nilai ibadah.
Ibadah mahdlah yang aturannya langsung dari
Allah swt. (dan Rasulullah) memiliki tujuan dan hikmah yang sangat besar yang
semuanya kembali kepada manusia yang melakukannya. Sebagai Tuhan Yang
Maha Sempurna, Allah swt. tidak mendapatkan efek sedikit pun dari peribadahan
manusia. Seandainya semua manusia di muka bumi ini enggan beribadah kepada
Allah, maka Allah swt. tetap Maha Kuasa dan Maha Sempurna.


E. KONSEP KHALIPAH
Pengertian Bahasa Khilafah
Khilafah menurut makna bahasa merupakan mashdar dari fi’il madhi khalafa, berarti : menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir, 1984:390). Makna khilafah menurut Ibrahim Anis (1972) adalah orang yang datang setelah orang lain lalu menggantikan tempatnya (jaa`a ba’dahu fa-shaara makaanahu).
tugas-tugas khalifah, yang secara lebih rinci terdiri dari dua tugas berikut :
Pertama, tugas khalifah menerapkan seluruh hukum syariah Islam atas seluruh rakyat. Hal ini nampak dalam berbagai nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mengatur muamalat dan urusan harta benda antara individu muslim (QS Al-Baqarah:188, QS An-Nisaa`:58), mengumpulkan dan membagikan zakat (QS At-Taubah:103), menegakkan hudud (QS Al-Baqarah:179), menjaga akhlaq (QS Al-Isra`:32), menjamin masyarakat dapat menegakkan syiar-syiar Islam dan menjalankan berbagai ibadat (QS Al-Hajj:32), dan seterusnya.
Kedua, tugas khalifah mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia dengan jihad fi sabilillah. Hal ini nampak dalam banyak nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mempersiapkan pasukan perang untuk berjihad (QS Al-Baqarah:216), menjaga tapal batas negara (QS Al-Anfaal:60), memantapkan hubungan dengan berbagai negara menurut asas yang dituntut oleh politik luar negeri, misalnya mengadakan berbagai perjanjian perdagangan, perjanjian gencatan senjata, perjanjian bertetangga baik, dan semisalnya (QS Al-Anfaal:61; QS Muhammad:35).

F. Konsep Amanah
A. PENGERTIAN AMANAH
Amânah berasal dari kata a-mu-na – ya‘munu – amn[an] wa amânat[an] yang artinya jujur atau dapat dipercaya. Kata kerja ini berakar dari huruf hamzah, mim dan nun yang makna pokoknya adalah aman, tenteram dan hilangnya rasa takut. Secara bahasa, amânah (amanah) dapat diartikan sesuatu yang dipercayakan atau kepercayaan. Amanah juga berarti titipan (al-wadî‘ah). Amanah adalah lawan dari khianat. Amanah terjadi di atas ketaatan, ibadah, al-wadî’ah (titipan), dan ats-tsiqah (kepercayaan).
Al-Isfahani memaknai amanah dengan ketenteraman jiwa (tu’maninatun al-nafs). Farid Wajdi menterjemahkan amanah dengan sukun al-qalb (ketenteraman hati). Lawan dari kata amanah adalah khianat. Dari akar kata ini juga terbentuk kata iman dan amin.
Orang yang beriman dipastikan akan memperoleh rasa aman dan tenteram. karena ia akan merasa mendapatkan penjagaan dari Allah Swt. Sebaliknya orang yang diselimuti dengan berbagai macam kegelisahan dan ketakutan, dipastikan sedang mengalami krisis iman.

AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG AMANAH
1.       Surat Al-ahzab ayat 72
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh.”
2.      Surat An-nisa’ ayat 58
Menunaikan amanah adalah wajib hukumnya. Amanah wajib disampaikan kepada yang berhak menerimanya. Alloh SWT berfirman dalam surat An-nisa’ ayat 58;
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.”Bottom of Form



 HAKIKAT MAKNA AMANAH DAN IMPLEMENTASINYA
Merujuk kepada ayat-ayat Al-Quran diatas, menurut pandangan penulis pada hakikatnya kata amanah mengandung makna sebagai berikut:
1. Amanah dalam arti tanggungjawab personal manusia kepada Alloh
Alasan penolakan alam (bumi, langit dan sebagainya) terhadap amanah (QS. Al-Ahzab: 72) adalah karena mereka tidak memiliki potensi kebebasan seperti manusia. Padahal untuk menjalankan amanah diperlukan kebebasan yang diiringi dengan tanggung jawab. Oleh sebab itu, apapun yang dilakukan bumi, langit, gunung terhadap manusia, walaupun sampai menimbulkan korban jiwa dan harta benda, tetap saja "benda-benda alam" itu tidak dapat diminta pertanggungjawabannya oleh Allah. Berbeda dengan manusia. Apapun yang dilakukannya tetap dituntut pertanggungjawaban.
Manusia adalah khalifah fi al-ardh, oleh karena itu manusia memiliki beban (tugas) untuk memakmurkan bumi (wasta’marakum alardh). Sebuah tugas yang maha berat, karena menuntut kesungguhan dan keseriusan kita dalam menjalankannya.
Bahkan tugas ini jauh lebih berat dari melaksanakan ibadah. Secara sederhana dapat dikatakan sebagai seorang muslim, hidup tidak sekedar menjalankan ibadah mahdzoh saja, lalu kita merasa nyaman. Hidup sesungguhnya adalah sebuah perjuangan untuk menegakkan kebaikan.

KESIMPULAN
Jadi dari semua pengertian di atas, kami bisa menyimpulkan dari setiap konsep-konsep. konsep Basyar adalah makhluk yang sekedar ada (being).  Dalam hal ini artinya, manusia adalah makhluk statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka bumi.Insan berarti manusia dalam arti yang sebenarnya, konsepInsan adalah makhluk yang menjadi (becoming). Ia terus-menerus maju menuju ke kesempurnaan Karakter “menjadi” yang lebih diinginkan. Sedangkan naas adalah
Konsep penciptaanSebelum memasuki pembahasan tentang pensucian jiwa manusia, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu kejadian penciptaan manusia dan tujuannya dalam kehidupan di dunia ini.Jadi jiwa manusia terbentuk dari dua unsur yaitu air dan tanah dan keduanya merupakan unsur yang amat dominan dalam pembentukan jiwa manusia.
Konsep Fitrah Pengertian fitrah secara lughatan (etimologi) berasal dari kosa kata bahasa arab yakni fa-tha-ra yang berarti “Kejadian” fitrah itu berasal dari kata kerja yang berarti Menjadikan.
Konsep ibadah
Secara etimologis kata ‘ibadah’ berasal dari bahasa Arab al-‘ibadah, yang
berarti taat, menurut, mengikut, tunduk (Ash Shiddieqy, 1985: 1).Sedang secaraterminologis ibadah diartikan segala sesuatu yang dikerjakan untuk mencapaikeridoan Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat
Khilafah menurut makna bahasa merupakan mashdar dari fi’il madhi khalafa, berarti : menggantikan atau menempati tempatnya,orang yang datang setelah orang lain lalu menggantikan tempatnya.
Konsep amanah
Amânah berasal dari kata a-mu-na – ya‘munu – amn[an] wa amânat[an] yang artinya jujur atau dapat dipercaya. Kata kerja ini berakar dari huruf hamzah, mim dan nun yang makna pokoknya adalah aman.







DAFTAR PUSTAKA

Didownload pada tanggal 10

·        www.anekaragammakalah.com
Didownload pada tanggal 10

·        http://penciptaan manusia.com
Didownload pada tanggal 10

·        www.islamindah.com
Didownload pada tanggal 10